Hukum Milik Orang Yang Punya Duit

Kasus-kasus mengharu-biru kerap diberitakan media (cetak dan elektronik), Misal, dua pemuda yang mencuri satu buah semangka ditangkap polisi dan diadili di pengadilan. Atau seorang nenek yang dihukum penjara karena mencuri tiga buah kakao seharga Rp 3.000 per biji milik sebuah perusahaan perkebunan. Lalu, seorang buruh pabrik dituduh mencuri kudapan milik perusahaan tempatnya bekerja seharga Rp 19.000, dituntut tiga bulan penjara dan dipecat.

Ada Manisih, Sri Suratmi, Juwono, dan Rusnoto karena diduga mencuri kapuk randu seberat 14 kg milik sebuah perusahaan, sempat ditahan selama 24 hari, lantas dihukum bersalah oleh pengadilan. Parto juga mengalami nasib serupa. Dia mencuri lima batang jagung (setara dengan harga Rp 10.000) untuk tambahan makanan sapinya, kasusnya dilimpahkan ke pengadilan dengan tuduhan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian.

Bandingkan dengan Fasilitas Yang diberi oleh Ka. Rutan Pondok Bambu Kepada Artalita Suryani tersangka suap jaksa Urip senilai Rp 6,1 miliar, Atau Ayin Tersangka Kasus Narkoba, atau bandingkan juga dengan Pelaku-pelaku korupsi Perbankan/Pengemplang BLBI (mayoritas Etnis Tionghoa) tau Pejabat Negara yang sedang bermasalah dengan hukum. Betapa enaknya mereka dengan kekuatan uangnya semua bisa diatur walaupun jelas-jelas mereka telah merugi Negara dalam jumlah yang sangat luar biasa.
Hal ini bisa terjadi karena buruknya kinerja hukum di Indonesia serta mental atau “budaya baru” dalam kehidupan kita yang suka memperjualbelikan hukum. Bobroknya dunia hukum kita ini harus diakui secara jujur bukan hanya dilakukan oleh aparatur negara tetapi juga dilakukan oleh institusi-institusi swasta seperti pengacara atau LSM-LSM tertentu. Tetapi semua itu terjadi karena aparatur negaralah yang membuka pintu untuk itu.
Sebagai gambaran dari budaya baru yang buruk itu sekarang ini banyak pengacara yang bekerja bukan karena profesionalitas atau keahliannya dalam mengadu argumen hukum melainkan karena kemampuannya membuka saluran-saluran kolutif dengan aparat penegak hukum. Dan untuk itu di dalam daftar kebutuhan biaya pengacara biasanya juga ada anggaran untuk melobi (menyuap untuk memperlicin) institusi penegak hukum. Dalam keadaan begini maka pengacara bukan lagi bertindak untuk mencari kebenaran melainkan menjadi ‘calo’ atau ‘perantara’ untuk mencari kemenangan yang kemudian bersinergi dengan unsur catur penegak hukum lainnya yaitu hakim, jaksa, dan polisi. Memang kemudian mafia seperti itu sulit dibuktikan secara formal-prosedural karena semuanya dikemas dengan baju hukum yang formal prosedural juga. Jika ada yang memepersoalkan kejanggalan atas produk mafia peradilan itu biasanya dijawab secara klise bahwa “proses hukum telah selesai dan sesuai dengan kewenangan dan prosedur yang berlaku dan biasa saja jika ada pihak yang tak puas.”
Kemudian ada Kejaksaan yang tak ketinggalan didalam proses hukum yang carut marut seperti ini………..contohnya adalah Jaksa Urip Tri Gunawan dalam kasus Artalita Suryani, atau seperti rekaman yang diperdengarkan dalam Kasus Anggodo………jelas-jelas dalam percakapan itu disebut-sebut orang kejaksaan, Mabes POLRI, sampai presiden pun sanggup diatur oleh orang seperti anggodo…………………………….
Kalau Hukum seperti ini di Negara kita, pantas orang lebih suka untuk melakukan Korupsi……karena dengan uang hasil korupsi itu segala sesuatunya bisa diatur…….tapi kalau masyarakat kecil janganlah untuk coba-coba berharap seperti itu…………karena dengan kekuatan uang, bisa-bisa anda bernasib akan seperti contoh diatas tadi……. karena di Negara kita ini HUKUM CUMA UNTUK ORANG MEMILIKI UANG

1 Komentar

  1. gabung di website kami…GRATIS…dan dapatkan semua produk kami..

    sebelum kami tutup!

    perhatian-ketika daftar anda akan dikenakan biaya, abaikan terus daftar tanpa transfer biaya dan tunggulah aktifasi akun anda .

    good luck


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s